Menikmati Hujan...

Dari kecil anggapan itu selalu muncul, aku percaya bahwa hujan bukanlah satu-satunya

yang membuat aku sering sakit. Dahulu, walaupun aku sering sekali bermain hujan-

hujanan tetapi tidak pernah yang mengakibatkan aku sakit panas seperti yang

ditakutkan oleh semua orang atau orang tua kita. Karena dengan menikmati hujan, tak

akan ada rasa sakit baik itu panas atau masuk angin. Aku percaya itu bahkan

sahabatku juga mempercayai itu, asalkan menikmati hujan pasti tidak ada rasa sakit

yang akan menyergap. Mungkin itulah yang membuatku betah menikmati hujan,

bermain-main genangan air yang mengumpul di jalanan yang terdapat lubangan cekung.

Hari demi hari dan sedari diriku sudah dewasa kekuatanku untuk menikmati hujan sudah

berbeda, aku merasakan bahwa betapa menderitanya bila terkena hujan. Itu berbeda

dari diriku saat itu yang mempercayai bahwa hujan bukanlah mendatangkan penyakit

untukku.

Saat ini aku percaya bahwa hujan dapat mengetahui ketidak tenangan atau kesedihan

yang kita rasakan. Asalkan menikmati hujan dengan senyum, namun banyak pikiran yang

tertuju dan melayang pada masalah yang selalu kita pikirkan, belum lagi ketakutan

kita pada hujan atau malu bermain-main hujan-hujanan jadi kefokusan kita untuk

bermain hujan hilang, karena pikiran yang tak menentu.

Itulah bedanya, mengapa lebih enak bermain hujan disaat kita masih kecil. Karena

kita hanya terfokus dengan suasana hujan yang tak ada pikiran untuk memikirkan

masalah yang belum dialami oleh anak-anak. Ketika telah dewasa rasanya sulit sekali,

menikmati hujan seperti masa-masa kecil.

Renungkanlah !!!

Jika Aku yang Meminta
Justru Aku Tak Berharap



Dari kertas yang kuremas hingga berbentuk bola kecil. Semua kutuliskan dari semua

yang ada padaku, baik itu yang sempurna atau dicampur oleh banyak warna hingga

menjadi yang tak sempurna. Dari berbaris-baris permintaanku pada bumi yang tanahnya

sebagai penyempurnaannya hingga tak mungkin manusia tidak menginjaknya. Namun dalam

sendiri dan tangan yang gemetar seakan-akan tak patut aku menulis semua permintaan

itu. Hingga aku seakan tak pernah berharap dari semua permintaan itu akan ada dan

hidup pada diriku, dari hal termudah sampai hal tersulit. Aku merenung dengan kertas

berbentuk bola ini yang kugenggam, mungkinkah aku dapat melakukannya ?

Sepatutnya aku manusia yang membutuhkan bantuan oleh sesamanya. Apalah daya hingga

aku justru semakin tak patut meminta bantuan padanya. Manusia sekarang bukanlah

dahulu, yang hanya sibuk untuk hidupnya sendiri. Bahkan melupakan dirinya sebagai

penolong sesamanya, sebagai pemberi jalan keluar untuk setiap jalan pada sesamanya,

apa yang mereka pikirkannya untuk jalannya saja hingga mereka melupakan alam sebagai

penyempurna hidupnya. Hingga mereka disibukkan dengan hal yang tak berguna, padahal

waktu adalah penyempurna bagi perubahan hidupnya.

Kemanakah jiwa empati mereka, dimana rasa kasih sayang yang seharusnya tumbuh pada

semua manusia. Apakah yang menjadikan bumi menumpahkan kemarahannya ?

Hingga banyak darah yang tak mengalir lagi,dan nyawa banyak yang terlepas. Tak ada

yang dapat menyingkir sekalipun manusia itu yang paling kuat di dunia. Kini mulailah

merenung bahwa manusia adalah tanah yang dapat diinjak oleh tanah (manusia). Itu

artinya manusia merendahkan dirinya hingga derajat paling rendah, disebabkan rasa

solidaritasnya dan keikhlasannya untuk membantu manusia sebagai ungkapan bahwa

manusia sebagai makhluk sosial tidak ada bedanya dengan piciknya manusia itu sendiri.

Tipe Phlegmatik

Phlegmatik (Phlegmatic) - Cairan phlegma - Lambat - “Cinta Damai”. Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan. Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis. Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Phlegmatis memiliki sifat alamiah pendamai. Ia biasanya menghidari kekerasan. Karena itu jugalah ia adalah orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan. Ia adalah tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya, tetapi ia sendiri tidak tertawa. Ia adalah pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya. Inilah yang membuatnya hampir-hampir tidak pernah terlihat gelisah. Di balik pribadinya yang dingin dan malu-malu, sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menunjukkan kemampuannya secara total. Sering kali mereka hanya menggunakan 30%-50% dari kemampuan mereka.

Bulan kedua PKL (Maret 2009)

Hari pertama PKL (tgl 02) yang nge-BT’in itu harus terjadi seperti bulan yang lalu. Ya, bulan kedua PKL di DEPPERIN (Departemen Perindustrian) di Gatot Subroto, mau dimasukin di bagian kearsipan, ngurusin arsip.

“Aduwh, gila ngeselin banget tuh.” Tampang saya udah males dan sedih banget.

Beruntung. Ada seorang ibu yang baik hati menanyakan siapa yang mau dibagian komputer. Jelas saya dengan PeDenya mengacungkan tangan dengan semangat. Dan ternyata dimasukin di bagian Perencanaan Biro Kepegawaian. Tetapi, di situ juga tidak diberikan komputer, kalau mau memakai harus ganti-gantian dengan karyawan di sana. Jadi ga leluasa deh.

Dapat kerjaan aja, baru dikasih siang-siang jam 11-an oleh Pak Armen. Beliaulah orang pertama yang memberi tugas untuk saya. Walaupun saya hanya diberi tugas menginput data menggunakan Access, tetapi setidak-tidaknya saya dapat menguasai ilmu itu sehingga cepat tanggap kalo ngatasin masalah. Selanjutnya di hari kedua saya mengenal ibu Yessy, ibu titin dan ibu Dessy. Semuanya baik-baik dan menyenangkan. Di sana saya juga berkenalan dengan para siswa PKL dari sekolah lain. Dari Kesuma Bangsa (Depok) ada delapan orang. Dian, Wulan, Wibda, Sarah, Evi, Anissa, Ayu dan Desi Dari bakti Idhata (Cilandak) 4 orang, semuanya cowok-cowok. Tapi yang saya kenal hanya dua orang Ibnu dan Refki, dan yang lainnya masih tanda tanya karena ga terlalu dekat. Dan ada lagi dari sekolah lain di bagian keuangan tetapi satupun ga kenal namanya.

PKL disana, nyantai banget. Banyak ngobrolnya daripada bekerja. Ternyata 3 hari(tgl 11-13) para pegawai di bagian perencanaan pada dinas ke Puncak, tetapi PKL tetap berjalan.

Selama ga ada pegawainya dan ga dapat tugas saya dipindahkan di bagian keuangan, dibimbing sama bu Wulan. Dan saat-saat saya diberi bimbingan oleh bu Wulan, terus kenal sama pegawai lain loh, namanya pak Made dan pak Puji. Selama saya dapat tugas dari bu Wulan, beliau membawa saya ke Lab, saat itulah saya bisa masuk ke Lab yang penuh dengan kabel2 jaringan dan conect to internet, always. Ternyata disana banyak kakak2, mereka masih muda dan sepertinya baru kerja tuh. Ada yang lulusan dari Gundar dan ada yang dari ITB. Mereka baik2 dan mau sedikit mengajari saya. Selama tiga hari saya di sana pokoknya menyenangkan banget deh.

Tetapi sepertinya hari Senin (tgl 16) besok harus siap-siap di bagian perencanaan lagi. Entah kapan bisa ke Lab itu lagi, ya kalo bu Wulan memberi tugas untuk saya pasti saya akan mengerjakan disana, di Lab.

Masalah kendaraan, sebenarnya ada antar jemput tetapi saya tidak pernah mencoba. Setahu saya dari teman2 PKL kalo mobil jemputan selalu rame dan kita2 sebagai siswa PKL walhasil harus duduk di tempat duduk cadangan. Tempat duduk cadangan yang katanya sih kurang nyaman gitu.

Terpaksa harus naik mobil bus deh, tetapi beberapa hari kemudian saya baru tahu kalo di tempat PKL saya ada BSG yang lewat disitu. Bus Sekolah Gila. Eits….. salah, maksudnya Bus Sekolah Gratis. Ada sebabnya juga sih kenapa bilang gila. Kerena kernek dan sopirnya gila…….gokil banget, gila…….Narsis banget, gila……….Bersahabat banget, gila………… baik banget. Jadi kalo udah di dalam BSG ada aja yang bikin anak2 sekolah ketawa di BSG itu. Apalagi banyak kenalan juga loh dari BSG itu. Pokoknya PKL di bulan kedua ini menyenagkan banget deh, ga ada tuh kata penyesalan.

I’m very happy and I will be sad if to stay Depperin. I’m serious !

Jangan Pernah Berubah (ST 12)

biarkan waktu teruslah berputar
ku cintai kamu penuh rasa sabar
meski sakit hati ini kau tinggalkan
ku ikhlas tuk bertahan

cintaku padamu begitu besar
namun kau tak pernah bisa merasakan
malah kini kau ucapkan selamat tinggal
membuat keresahan

* meninggalkanku tanpa perasaan
hingga ku jatuhkan air mata
kekecewaanku sungguh tak berarah
biarkan ku harus bertahan

reff:
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilanglah sudah
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilanglah sudah