IQ, EQ, dan SQ

IQ (Intelligent Quotient) adalah kemampuan otak atau daya nalar. IQ tinggi adalah kemampuan kecerdasan yang dimiliki dari rata2 bukanlah sebuah kesempurnaan yang dimiliki manusia. Kenyataannya orang yang yang cerdas tidak dapat menetapkan keberhasilan pada dirinya. Alhasil kegagalan sering terjadi ketika kecerdasan harus berhadapan dengan dunia social.

Kalaupun IQ berjalan di garis lurus tetapi EQ (kemampuan emosional) tidak menentukan berjalannya IQ paradigma yang terjadi adalah IQ dapat meningkatkan kinerja tetapi bersifat terbatas sedangkan EQ, ternyata lebih mendorong kinerja yang terjadi.

Orang yang IQ-nya tinggi mampu menganalisa dengan baik sedangkan orang yang EQ-nya tinggi mampu merasakan dan memahami keadaan orang lain. Pusat dari EQ itu sendiri adalah qalbu (hati). Dari hati kita dapat belajar mengenal sesuatu yang tidak dapat dimengerti oleh otak, muncul suatu semangat dan integritas yang berbeda, maka itu suatu semangat yang dimiliki oleh manusia memiliki nilai kekuatan yang berbeda-beda karena hati tidak dapat menilai sesuatu dengan perhitungan jumlah tetapi dari hatilah kita dapat mengetahui secara kontras apa-apa yang tidak diketahui dengan mudah yang bersifat verbal dan non verbal.

SQ adalah kemampuan untuk merasakan suara hati ilahiyah yang memotivasi diri untuk berbuat atau tidak berbuat. Secara gambling SQ lebih menempatkan diri pada hati nurani dan kebenarannya melampaui kebenaran suara akal dan qalbu.

Allah Knows

Menulis menghilangkan Stress

Anak Jalanan

Sabtu, 25 Mei 2009
tepat setelah pulang dari pertemuan die-j, entah mengapa ingin sekali b'jalan-jalan sampai pasar rebo, walaupun sendiri tetapi ada saja yang membuat aku merasa betah b'lama-lama di sana. Namun, bagaimanapun tetap saja tidak bisa melakukannya, karena rasa lelah dan capek.

dengan semangat b'jalan-jalan sampai pasar rebo, tdk sengaja aku menemukan kumpulan anak2 di bawah fly over. dengan keheranan aku memandang anak2 itu, ingin rasanya datang menghampiri anak2 itu. dan semakin dekat langkah kaki berjalan hingga semakin dekat kuperhatikan apa yang dilakukan mereka di sana.

Ternyata...aku melihat kumpulan anak-anak itu sedang belajar, dengan rasa penasaran aku memperhatikan siapakah pengajar mereka. Dan ternyata seorang dewasa yang sepertinya mahasiswa-mahasiswa. Ingin rasanya menghampirinya, rasanya menyenangkan.
Tetapi aku tidak berani. Sungguh aku baru melihat kejadian itu dan sepertinya belajar untuk anak jalanan itu hanya dilakukan setiap sabtu saja. Karena setelah kejadian itu aku ingin melihat lagi suasana itu tepat hari Jum'at (tgl 01 Maret) karena rencana ke Die-j juga sih. Hasilnya, ga ada suasana itu.

Sungguh menyenangkan melihat anak2 jalanan itu belajar, dengan beralaskan tikar di bawah fly over dengan udara polutan mereka tetap mau untuk belajar.

Hidup kah ?

Ketika ingin sekali kehidupan itu dijalankan tanpa beban dan menghilangkan rasa sesak di dada. Muncul satu kata sebagai semangat, aku ini berada di sini untuk menjalani kehidupan akhir dan untuk selamanya. Kian dewasa aku semakin tahu bahwa sebenarnya tidak ada kata indah bila tidak ada beban, penat, bahkan rasa jengkel semua makhluk sang khalik. Semua itu memang sudah seimbang sang Esa memberikannya pada kita, tetapi mengapa jawaban ketidak puasan yang selalu muncul hingga manusia jatuh tersungkur di bawah nikmat dunia.

Ketika itu juga manusia lebih menaungi dirinya kepada manusia juga, apakah itu salah ?
antara salah dan tidak, jawaban itu sampai sekarang pun belum aku temukan. Yang pasti hanya ada satu kata dan keindahan yang justru disalah gunakan oleh manusia, dan akhirnya yang Pengasih dan Penyayang murka. Cinta, ya sering kali manusia memaknai cinta dengan ketidak jujuran, kemunafikan, bahkan melebih-lebihkan cinta kepada manusia daripada sang Penguat Cinta...