Sabtu, 25 Mei 2009
tepat setelah pulang dari pertemuan die-j, entah mengapa ingin sekali b'jalan-jalan sampai pasar rebo, walaupun sendiri tetapi ada saja yang membuat aku merasa betah b'lama-lama di sana. Namun, bagaimanapun tetap saja tidak bisa melakukannya, karena rasa lelah dan capek.
dengan semangat b'jalan-jalan sampai pasar rebo, tdk sengaja aku menemukan kumpulan anak2 di bawah fly over. dengan keheranan aku memandang anak2 itu, ingin rasanya datang menghampiri anak2 itu. dan semakin dekat langkah kaki berjalan hingga semakin dekat kuperhatikan apa yang dilakukan mereka di sana.
Ternyata...aku melihat kumpulan anak-anak itu sedang belajar, dengan rasa penasaran aku memperhatikan siapakah pengajar mereka. Dan ternyata seorang dewasa yang sepertinya mahasiswa-mahasiswa. Ingin rasanya menghampirinya, rasanya menyenangkan.
Tetapi aku tidak berani. Sungguh aku baru melihat kejadian itu dan sepertinya belajar untuk anak jalanan itu hanya dilakukan setiap sabtu saja. Karena setelah kejadian itu aku ingin melihat lagi suasana itu tepat hari Jum'at (tgl 01 Maret) karena rencana ke Die-j juga sih. Hasilnya, ga ada suasana itu.
Sungguh menyenangkan melihat anak2 jalanan itu belajar, dengan beralaskan tikar di bawah fly over dengan udara polutan mereka tetap mau untuk belajar.
Ketika ingin sekali kehidupan itu dijalankan tanpa beban dan menghilangkan rasa sesak di dada. Muncul satu kata sebagai semangat, aku ini berada di sini untuk menjalani kehidupan akhir dan untuk selamanya. Kian dewasa aku semakin tahu bahwa sebenarnya tidak ada kata indah bila tidak ada beban, penat, bahkan rasa jengkel semua makhluk sang khalik. Semua itu memang sudah seimbang sang Esa memberikannya pada kita, tetapi mengapa jawaban ketidak puasan yang selalu muncul hingga manusia jatuh tersungkur di bawah nikmat dunia.
Ketika itu juga manusia lebih menaungi dirinya kepada manusia juga, apakah itu salah ?
antara salah dan tidak, jawaban itu sampai sekarang pun belum aku temukan. Yang pasti hanya ada satu kata dan keindahan yang justru disalah gunakan oleh manusia, dan akhirnya yang Pengasih dan Penyayang murka. Cinta, ya sering kali manusia memaknai cinta dengan ketidak jujuran, kemunafikan, bahkan melebih-lebihkan cinta kepada manusia daripada sang Penguat Cinta...
Wawancara selalu terkait dengan jurnalistik, sepenuhnya baik dalam teori atau pun praktek. Bahkan diketahui kemenarikan yang didapat dari wawancara tersebut adalah mendapat hasil liputan berita mengenai hal yang dikemukakan kepada masyarakat bersifat fakta atau pendapat. Jika wawancara dan jurnalistik selalu terhubung dengan pemberitaan dan khalayak luas, bukan berarti dapat menutup kemungkinan pengolahan bahasa menjadi kesan secara langsung.
Wawancara jurnalistik selalu mengambil pesan dalam pemberitaan sebagai jual beli produk jurnalistik yang menghancurkan kekokohan lembaga atau organisasi dari wawancara tersebut. Merasa gagalnya dalam mewawancarai, biasanya disebabkan banyaknya sumber teori dan praktek secara bertahap yang selalu bergantung dengan waktu. Seharusnya dari kata journalistik yang secara etimologis du jour (sebuah catatan harian) diketahui bahwa sebuah wawancara dan jurnalistik ini merupakan pemberitaan yang dilakukan harian/setiap hari sesuai dengan bahan berita menarik yang diperbincangkan masyarakat khalayak luas.
Wawancara jurnalistik harus dapat menggali tema dari berita melalui kesan, pendapat, atau pikiran menarik dari informan berita wawancara menghubungkan antara fakta dan opini yang menjadikan berita semakin hidup atau tidak membosankan. Wawancara bukan hanya bagaimana memberi pertanyaan sebanyak-banyaknya dan menggali seluas-luasnya. Namun hal utama yang diperlukan adalah pembawaan rasa nyaman antara narasumber yang didapat dari pewawancara tersebut, lebih baik jika pewawancara lebih mengenal narasumber dengan mencari data riwayatnya. Berusahalah untuk menembus dan menggali narasumber yang memberikan kemampuan dalam kesuksesan sebagai seorang jurnalis.
Feature, mungkin menurut orang yang awam tentang dunia jurnalistik baru pertama denger dan ga tw tuh kegunaanya dan daya tarik dari feature itu sendiri.
Feature adalah gaya tulisan dari yang target utamanya adalah memberikan hiburan. Jadi penulisan itu sendiri tidak terikat oleh bahasa baku atau formal, kemenarikan bahasa yang ditunjukkan oleh seorang jurnalis dengan memasukan gaya hidup yang sesuai zaman (pergaulan kata2 yang unik, baik yang didapat dari luar negara atau negara itu sendiri, dikalangan remaja atau dunia bebas pergaulan).
Feature lebih menitikberatkan dengan mengutarai tulisan menjadi lebih ringan, dengan suasana bahasa yang penuh warna (seperti itulah…!). walaupun begitu, pemakaian feature lebih sering digunakan untuk sumber berita yang masuk dalam peristiwa, kejadian, gagasan, atau pun yang menyangkut fakta. Jadi pemberitaan dengan feature tidak pernah kering dan biasanya sebagai bumbu penyedap.
Nah itulah yang saya dapat dari pengertian feature. Ini saya dapatkan dari sebuah pelatihan jurnalistik di jakarta. Selamat membaca !