Tipe Phlegmatik

Phlegmatik (Phlegmatic) - Cairan phlegma - Lambat - “Cinta Damai”. Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan. Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis. Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Phlegmatis memiliki sifat alamiah pendamai. Ia biasanya menghidari kekerasan. Karena itu jugalah ia adalah orang yang mudah diajak bergaul, ramah, dan menyenangkan. Ia adalah tipe orang yang bisa membuat sekelompok orang tertawa terbahak-bahak oleh humor-humor keringnya, tetapi ia sendiri tidak tertawa. Ia adalah pribadi yang konsisten, tenang, dan jarang sekali terpengaruh dengan lingkungannya. Inilah yang membuatnya hampir-hampir tidak pernah terlihat gelisah. Di balik pribadinya yang dingin dan malu-malu, sesungguhnya ia memiliki kemampuan untuk dapat lebih merasakan emosi yang terkandung pada sesuatu. Karena sifatnya yang menyukai kedamaian dan tidak menyukai pertikaian, ia cenderung menarik diri dari segala macam keterlibatan. Hal inilah yang sering kali menghambatnya untuk menunjukkan kemampuannya secara total. Sering kali mereka hanya menggunakan 30%-50% dari kemampuan mereka.

Bulan kedua PKL (Maret 2009)

Hari pertama PKL (tgl 02) yang nge-BT’in itu harus terjadi seperti bulan yang lalu. Ya, bulan kedua PKL di DEPPERIN (Departemen Perindustrian) di Gatot Subroto, mau dimasukin di bagian kearsipan, ngurusin arsip.

“Aduwh, gila ngeselin banget tuh.” Tampang saya udah males dan sedih banget.

Beruntung. Ada seorang ibu yang baik hati menanyakan siapa yang mau dibagian komputer. Jelas saya dengan PeDenya mengacungkan tangan dengan semangat. Dan ternyata dimasukin di bagian Perencanaan Biro Kepegawaian. Tetapi, di situ juga tidak diberikan komputer, kalau mau memakai harus ganti-gantian dengan karyawan di sana. Jadi ga leluasa deh.

Dapat kerjaan aja, baru dikasih siang-siang jam 11-an oleh Pak Armen. Beliaulah orang pertama yang memberi tugas untuk saya. Walaupun saya hanya diberi tugas menginput data menggunakan Access, tetapi setidak-tidaknya saya dapat menguasai ilmu itu sehingga cepat tanggap kalo ngatasin masalah. Selanjutnya di hari kedua saya mengenal ibu Yessy, ibu titin dan ibu Dessy. Semuanya baik-baik dan menyenangkan. Di sana saya juga berkenalan dengan para siswa PKL dari sekolah lain. Dari Kesuma Bangsa (Depok) ada delapan orang. Dian, Wulan, Wibda, Sarah, Evi, Anissa, Ayu dan Desi Dari bakti Idhata (Cilandak) 4 orang, semuanya cowok-cowok. Tapi yang saya kenal hanya dua orang Ibnu dan Refki, dan yang lainnya masih tanda tanya karena ga terlalu dekat. Dan ada lagi dari sekolah lain di bagian keuangan tetapi satupun ga kenal namanya.

PKL disana, nyantai banget. Banyak ngobrolnya daripada bekerja. Ternyata 3 hari(tgl 11-13) para pegawai di bagian perencanaan pada dinas ke Puncak, tetapi PKL tetap berjalan.

Selama ga ada pegawainya dan ga dapat tugas saya dipindahkan di bagian keuangan, dibimbing sama bu Wulan. Dan saat-saat saya diberi bimbingan oleh bu Wulan, terus kenal sama pegawai lain loh, namanya pak Made dan pak Puji. Selama saya dapat tugas dari bu Wulan, beliau membawa saya ke Lab, saat itulah saya bisa masuk ke Lab yang penuh dengan kabel2 jaringan dan conect to internet, always. Ternyata disana banyak kakak2, mereka masih muda dan sepertinya baru kerja tuh. Ada yang lulusan dari Gundar dan ada yang dari ITB. Mereka baik2 dan mau sedikit mengajari saya. Selama tiga hari saya di sana pokoknya menyenangkan banget deh.

Tetapi sepertinya hari Senin (tgl 16) besok harus siap-siap di bagian perencanaan lagi. Entah kapan bisa ke Lab itu lagi, ya kalo bu Wulan memberi tugas untuk saya pasti saya akan mengerjakan disana, di Lab.

Masalah kendaraan, sebenarnya ada antar jemput tetapi saya tidak pernah mencoba. Setahu saya dari teman2 PKL kalo mobil jemputan selalu rame dan kita2 sebagai siswa PKL walhasil harus duduk di tempat duduk cadangan. Tempat duduk cadangan yang katanya sih kurang nyaman gitu.

Terpaksa harus naik mobil bus deh, tetapi beberapa hari kemudian saya baru tahu kalo di tempat PKL saya ada BSG yang lewat disitu. Bus Sekolah Gila. Eits….. salah, maksudnya Bus Sekolah Gratis. Ada sebabnya juga sih kenapa bilang gila. Kerena kernek dan sopirnya gila…….gokil banget, gila…….Narsis banget, gila……….Bersahabat banget, gila………… baik banget. Jadi kalo udah di dalam BSG ada aja yang bikin anak2 sekolah ketawa di BSG itu. Apalagi banyak kenalan juga loh dari BSG itu. Pokoknya PKL di bulan kedua ini menyenagkan banget deh, ga ada tuh kata penyesalan.

I’m very happy and I will be sad if to stay Depperin. I’m serious !

Jangan Pernah Berubah (ST 12)

biarkan waktu teruslah berputar
ku cintai kamu penuh rasa sabar
meski sakit hati ini kau tinggalkan
ku ikhlas tuk bertahan

cintaku padamu begitu besar
namun kau tak pernah bisa merasakan
malah kini kau ucapkan selamat tinggal
membuat keresahan

* meninggalkanku tanpa perasaan
hingga ku jatuhkan air mata
kekecewaanku sungguh tak berarah
biarkan ku harus bertahan

reff:
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilanglah sudah
jangan pernah kau coba untuk berubah
tak relakan yang indah hilanglah sudah

Kemanakah haknya ???

Hak anak untuk mendapatkan layaknya harus dimiliki justru ini tidak dapat dimiliki oleh sebagian anak-anak Indonesia. Dimana perjalanan hidup untuk bertahan harus mereka rasakan. Mengapa ini bisa terjadi ??

Terus terang banyak sekali yang harus dicapai Indonesia, tetapi apakah mereka ( penduduk Indonesia- yg berkedudukan tinggi salah satunya banyak pejabat yang mengambil bukan hak alias korupsi ) tidak sadar bahwa kemajuan ada di tangan anak bangsa yang harusnya mendapatkan haknya sebagai media untuk pencapaian nilai tertinggi bangsa Indonesia dari negara-negara lain. Pendidikan, kasih sayang, dunia kereativitas yang seharusnya dapat diasah oleh setiap anak-anak tidak sepenuhnya mereka dapatkan. Padahal semua itu adalah hal yang sangat penting. Dengan adanya APBN yang masuk ke pendidikan hanya 20 % itu tidak mencukupi karena banyak sebab, yang seharusnya dapat di tangan anak bangsa justru jatuh di pihak yang menguntungkan, tetapi merugikan mereka - anak bangsa.

Anak-anak yang sepatutnya merasakan dunia bermain justru berada di tengah jalanan metropolitan hanya untuk mencari sumber rezeki, yang jatuhnya pun tidak seberapa. Mereka rela melepaskan jenjang pendidikan asalkan mereka bisa mencari uang untuk kelangsungan hidupnya, sungguh ironisnya ada sebagian dari anak jalanan yang justru mencari rezeki di setiap jalan utama Jakarta karena paksaan dari orang tuanya, sedangkan orangtunya hanya santai duduk tak merasakan apa yang dialami oleh anaknya sendiri. Bagaimana dengan ini, mengapa harus mereka.

Dimana peran pemerintah tentang hal ini, padahal hal ini sudah banyak dialami?

Apakah tangisan dan muka berbalut kepolosan mereka tidak pernah hadir setiap harinya?

Kemanakah pemeran besar pendidikan di Indonesia, padahal sudah sangat banyak mereka merajalela di jalanan ?

Apa kesadaran itu tidak pernah timbul. Apakah mereka harus berteriak mengeluarkan air mata ??

Inilah luapan hati yang ingin kusampaikan, dan harus tersampaikan hanya inilah caranya yang dapat kulakukan..

Interaksi Lingkungan

Terkadang kita menemukan lingkungan yang nyaman, membuat kita tak ingin beranjak pergi dan meninggalkannya, serta selalu menemukan kenangan manis dan indah sehingga tak rela jika harus pergi jauh dari tempat yang membuat kita nyaman. Mungkin ini dapat kita temukan solusinya, tetapi bagaimana jika berada di tempat yang sebenarnya tidak kita sukai dan berharap cepat pergi dari sana. Sungguh, itu hal yang menyebalkan. Di saat perasaan sedang kesal apakah bisa kita menemukan solusinya ???

Sebenarnya dari sebuah tempat yang membuat kita tidak suka hingga merasakan ingin cepat-cepat beranjak dari tempat itu adalah kurangnya mengerti arti dari sebuah interaksi lingkungan. Interaksi lingkungan yang menempatkan pada suasana lingkungan, baik nyaman atau pun tidak yang membuat kita akan selalu bertahan dimana kita berada. Kita hidup bukan selalu ingin merasakan kenyaman saja, tetapi bagaimana kita dapat masuk ke dalam lingkungan yang memiliki interaksi negatif atau positif. Tetapi, sering kali jika ada sebuah lingkup interaksi lingkungan dengan sisi negatifnya, selalu memikirkan ingin keluar dan lepas dari tempat tersebut tanpa memikirkan bagaimana cara untuk menemukan solusi karena perasaan ke tidak nyamanan itu sudah merambat dipikiran, sehingga tidak berhasil menemukan solusinya.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, misalnya kita dapat pergi ke suatu tempat dengan ketenangan dan penuh kenyamanan. Setidak-tidaknya kita akan kembali dengan pikiran yang jernih. Disitulah kita dapat mencari solusi. Tempat yang membuat kita nyaman dan tenang, seperti danau, lapangan luas di siang hari (karena biasanya sepi dengan suara bising, atau manusia), taman, atau ruangan yang selalu membuatmu nyaman, juga sebuah hutan kecil dengan pepohonan yang rindang.

Ini hanya segelintir pengetahuan yang sudah saya coba, dan saya sudah menemukan cara ini ketika kehilangan dari sesuatu yang menarik di lingkungan yang membuat saya tidak nyaman tersebut, namun setelah saya coba ternyata ini berhasil. Ini saya lakukan ketika saya baru duduk di SMP.

Cobalah !!!! semoga ini dapat berhasil…